Categories
Pendidikan

Pengertian Strategi dan Manajemen Strategi

Pengertian Strategi dan Manajemen Strategi

Pengertian Strategi dan Manajemen Strategi

Pengertian Strategi

Strategi berasal dari bahasa Yunani, strata atau makna strategis umum, strategi berarti seni jenderal, di mana jenderal memimpin dan memimpin pasukan jenderal, sehingga mereka bisa menang dalam pertempuran di mana praktik umum di dunia bisnis Mereka dilaksanakan oleh CEO untuk mencapai tujuan dan menguntungkan pemangku kepentingan. dan manajer yang menjalankan organisasi atau perusahaan untuk bersaing dengan saingan bisnisnya.

Menurut William F. Glueck dan Lawrence Jauch, strategi adalah rencana terpadu, komprehensif dan terintegrasi yang menghubungkan manfaat dari strategi perusahaan dengan tantangan lingkungan dan dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan tercapai melalui implementasi. memadai oleh organisasi (Djaslim Saladin, 2003). Berdasarkan pemahaman ini, dapat disimpulkan bahwa strategi perusahaan adalah rencana yang terintegrasi, komprehensif dan terintegrasi untuk mencapai tujuan perusahaan.

 

Definisi Manajemen Strategi

Definisi manajemen strategi menurut Gregory G Dees dan Alex Miller
Ini adalah proses yang menggabungkan tiga kegiatan: analisis strategi, pembentukan strategi dan implementasi strategi (Djaslim Saladin, 2003). Thomas L Wheelen-J David Hunger memberikan pendekatan manajemen strategi yang mengatakan bahwa manajemen strategi adalah seperangkat keputusan dan tindakan manajerial yang menentukan keberhasilan perusahaan dalam kegiatan jangka panjang, termasuk penciptaan / perencanaan, implementasi / implementasi dan evaluasi strategi . Djaslim Saladin, 2003). Berdasarkan dua sudut pandang ini, dapat disimpulkan bahwa manajemen strategis memilih strategi alternatif terbaik untuk organisasi atau perusahaan dalam semua aspek untuk mendukung kegiatan bisnis perusahaan dan bahwa manajemen strategi ini harus dilakukan secara terus menerus. oleh perusahaan dan fleksibel dengan tuntutan kondisi di lapangan.

 

Manajemen Strategis Sangat Penting

Manajemen strategis sangat penting bagi organisasi / perusahaan di dunia bisnis karena:

  • Berikan arahan untuk mencapai tujuan organisasi / perusahaan
  • Sangat membantu untuk memikirkan kepentingan berbagai pihak.
  • Anda bahkan dapat mengantisipasi perubahan apa pun
  • Terkait dengan efisiensi dan efektivitas

 

 

Sumber : https://materi.co.id/

Categories
Pendidikan

Merek

Merek

Merek

Pengertian Merek

Pada awalnya, tanda itu hanya nama untuk dibedakan, pada perkembangan selanjutnya tanda itu mungkin nama yang dianggap mewakili suatu objek, maka tanda itu dianggap sebagai simbol dan kemudian menjadi gambar. Merek adalah alat bagi perusahaan untuk mengembangkan dan mempertahankan loyalitas pelanggan. Menurut AAker, suatu merek adalah nama atau simbol khusus (seperti cap atau logo pengemasan) untuk mengidentifikasi produk atau layanan dari vendor atau kelompok produk tertentu dan untuk membedakannya dari produk atau layanan (AB Susanto dan Himawan Wijanarko) diproduksi oleh pesaing. , 2004). Pengembangan lebih lanjut dari merek dipengaruhi oleh perubahan internal dan eksternal. Merek adalah nilai indikatif yang ditawarkan kepada pelanggan oleh perusahaan. Merek adalah aset yang menciptakan nilai dengan membagi nilai total atau manfaat yang diperoleh pelanggan dengan jumlah yang diberikan atau semua pengorbanan yang diberikan oleh pelanggan.

 

Total Get mencakup 2 Komponen

  • Manfaat fungsional (manfaat fungsional) berhubungan langsung dengan fungsi yang dilakukan oleh suatu produk
  • Manfaat emosional (manfaat emosional) adalah manfaat yang diterima pelanggan dalam bentuk stimulasi emosi dan emosi.


Total give mencakup 

  • Harga yang dibayarkan oleh pelanggan (harga)
  • Biaya lain yang dikeluarkan untuk menggunakan dan menggunakan produk pelanggan


4 komponen sebelumnya menentukan kekuatan suatu merek. Merek yang kuat, di satu sisi, akan ditandai dengan manfaat fungsional dan emosional yang tinggi, di sisi lain, itu akan ditandai dengan harga rendah dan biaya lainnya. Ini berarti bahwa itu menghasilkan total pasokan dan tingkat pengiriman total sebesar mungkin. Dengan memperkuat kepuasan dan loyalitas merek, itu menjadi alat untuk mengukur kualitas nilai yang ditawarkan perusahaan.

Dengan produk yang dapat keluar dari jebakan merek atau pemasaran merek perusahaan, itu memastikan bahwa produk dan layanan perusahaan tidak tergantung pada kurva penawaran dan permintaan dasar dan memiliki merek yang kuat, untuk menghasilkan harga yang menarik dan mencegah masuknya pesaing.

 

 

 

Baca Juga Artikel Lainnya :

 

Categories
Pendidikan

Pemasaran Jasa

Pemasaran Jasa

Pemasaran Jasa

Kualitas kini ibarat tiket masuk ke dalam gelanggang pertandingan bila perusahaan ingin bertahan! Pada waktu lalu sebelum dikenal ISO 9000 dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen maka belum ada yang melindungi konsumen jika kualitas jasa yang ditawarkan perusahaan rendah. Tapi kini, para produsen jasa dapat dengan mudah dimasukkan ke “hotel rodeo” alias penjara oleh konsumennya sendiri! Mengapa tidak? UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen (UU Konsumen) yang sudah berlaku efektif sejak 20 april 2000 lalu, telah menampung segala sesuatu yang berhubungan dengan keluhan konsumen terhadap produsen untuk melindungi hak-haknya secara hukum. UU Konsumen ini juga memuat banyak hal “baru” yang diperkenalkan, seperti alternatif penyelesaian selain legitimasi. Dan dalam legitimasi pun dimungkinkan secara suka rela ada penyelesaian di luar pengadilan (settlement out of court). Dengan kata lain, semangat memudahkan konsumen untuk menuntut pelaku usaha merupakan jiwa dari UU Konsumen.

Pelanggan menurut Cambridge International Dictionaries adalah “a person who buys goods or a service”. (Pelanggan adalah seseorang yang membeli suatu barang atau jasa). Sementara menurut Webster’s 1928 Dictionary pelanggang adalah “one who frequents any place of sale for the sake or purchasing goods or wares” (Pelanggan adalah) atau “Customer is one who frequents or visit any place for procuring what he wants……” (Pelanggan adalah seseorang yang beberapa kali datang ke tempat yang sama untuk memenuhi apa yang diinginkan.…)

 

Dimensi Kualitas Pelayanan (SERVQUAL)

Dalam salah satu studi mengenai SERVQUAL oleh Parasuraman (1988) yang melibatkan 800 pelanggan (yang terbagi dalam 4 perusahaan) berusia 25 tahun ke atas, disimpulkan bahwa terdapat lima dimensi SERVQUAL sebagai berikut (Parasuraman,et.all, 1998) yaitu: tangibles, reliability,responsiveness, assurance dan emphaty.

  • Tangibles, atau berwujud yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan harus dapat diandalkan keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa. Yang meliputi fasilitas fisik (gedung, gudang, dan lain sebagainya), perlengkapan dan peralatan yang dipergunakan (teknologi), serta penampilan pegawainya.
  • Reliability, atau kehandalan yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. Kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang simpatik, dan dengan akurasi yang tinggi.
  • Responsiveness, atau ketanggapan yaitu suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat (responsif) dan tepat kepada pelanggan, dengan penyampaian informasi yang jelas. Membiarkan konsumen menunggu tanpa adanya suatu alasan yang jelas menyebabkan persepsi yang negatif dalam kualitas pelayanan.
  • Assurance, atau jaminan dan kepastian yaitu pengetahuan, kesopansantunan, dan kemampuan para pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para pelanggan kepada perusahaan. Terdiri dari beberapa komponen antara lain komunikasi (communication), kredibilitas (credibility), keamanan (security), kompetensi (competence), dan sopan santun (courtesy).
  • Empathy, yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya memahami keinginan konsumen. Dimana suatu perusahaan diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan.

 

Kepuasan Mutu Pelayanan

Mutu pelayanan dan produk dapat di buat indeks dengan kekuatan jawaban menuju ke setiap butir kepuasan. Salah satu format pengukurannya adalah dengan skala Likert yang dirancang untuk memungkinkan pelanggan menjawab dalam berbagai tindakan pada setiap butir yang menguraikan pelayanan/produk.

Untuk memungkinkan para pelanggan menjawab dalam berbagai tingkatan bagi setiap butir kepuasan, format tipe Likert bisa dipergunakan. R.A. Likert (1932) mengembangkan prosedur penskalaan dimana skala mewakili suatu kontinum bipolar. Pada ujung sebelah kiri (dengan angka rendah) menggambarkan suatu jawaban yang negatif sedangkan ujung kanan (dengan angka besar) menggambarkan yang positif.

Kategori yang dipergunakan oleh skala Likert berupa analisis tingkat kepentingan dan kinerja (performance and importance analysis) dengan lima kategori sebagai berikut (Supranto, 1997):

Variabel-varibel jawaban tersebut mewakili butir-butir kepuasan yang benar-benar menguraikan pelayanan perusahaan. Pelanggan menjawab setiap butir berdasarkan seberapa baik suatu butir tertentu menggambarkan pelayanan yang diterimanya. Dari jawaban butir-butir data mentah yang dihasilkan dan berhasil dikumpulkan tersebut, perlu dilakukan pengelolaan data atau dibuat statistik yaitu berupa data ringkasan antara lain rata-rata (average) dan standard deviasi untuk setiap butir kepuasan sehingga bisa diperbandingkan/dianalisis untuk diambil kesimpulannya. Ringkasan nilai tersebut dapat memberikan ukuran mutu pelayanan yang lebih umum dan sangat berguna untuk disajikan kepada manajer/pimpinan.

 

Strategi Mengelola Permintaan

a. Membagi permintaan berdasarkan segmen pasar

Dapatkah usaha-usaha pemasaran meredam fluktuasi di dalam permintaan? Jawaban umumnya adalah tidak, karena fluktuasi tersebut biasanya disebabkan oleh faktor-faktor diluar kendali perusahaan. Tetapi analisis pasar yang lengkap kadang-kadang dapat memperlihatkan bahwa siklus permintaan dapat diprediksi dengan satu segmen yaitu dengan menyembunyikannya ke dalam segmen yang lebih luas lagi. Caranya dengan menurunkan permintaan total ke dalam komponen yang lebih kecil tergantung pada catatan yang dimiliki pihak manajemen.

Jika tiap transaksi pelanggan dicatat secara terpisah dan dilengkapi dengan catatan khusus (contohnya dalam jasa medis atau jumlah kedatangan ke dokter gigi maupun audit akuntan). Di dalam abonemen ketika identitas tiap pelanggan diketahui dan tagihan bulanan dikirim, manajer dapat memperoleh informasi dengan cepat mengenai pola penggunaan jasa oleh pelanggan tersebut. Walaupun data tersebut tidak selalu memberikan informasi spesifik yang akan digunakan untuk mengetahui apakah pelanggan sudah memanfaatkan layanan tersebut, tetapi informasi tersebut juga digunakan untuk membuat penilaian tentang volume penjualan yang dapat diperoleh dari kelompok pelanggan yang berbeda.

b. Mengelola Permintaan pada kondisi-kondisi yang berbeda

5 pendekatan  dalam mengatur Permintaan Jasa yaitu :

  • Take no action (tidak melakukan apa-apa)
  • Reduce demand (mengurangi permintaan)
  • Increase demand (peningkatan permintaan)
  • Inventory demand by reservation system (sistim reservasi melalui persediaan permintaan)
  • Inventory demand by formalized queuing (antrian formal melalui persediaan permintaan)

 

Sumber : https://seputarilmu.com/

Categories
Pendidikan

Tingkatan Harapan Pelanggan

Tingkatan Harapan Pelanggan

Tingkatan Harapan Pelanggan

Tingkatan harapan pelanggan dapat bermacam-macam tergantung pada poin referensi yang dimiliki pelanggan. Walaupun kebanyakan orang memiliki intuisi dari apa yang diharapkan, pemasar jasa harus lebih jelas di dalam mendefinisikan harapan pelanggan sehingga dapat memahami, mengukur, dan mengelolanya. Tingkat harapan konsumen bermacam-macam dari yang mulai rendah sampai yang paling tinggi (gambar 3.1), yaitu harapan yang paling rendah dimana aspek toleransi terhadap pelayanan masih tinggi sampai pada harapan ideal atau disebut desire (keinginan). Pada gambar 3.1 menjelaskan bagaimana tingkatan harapan konsumen pada saat pergi ke restoran. Tingkatan harapan konsumen dapat dijelaskan dari pendapat konsumen tentang restoran tersebut yaitu:

1. Harapan toleransi minimum (minimum tolerable expectaion)

dimana konsumen menyatakan: ‘Saya mendapatkan pelayanan yang tidak baik dari restorant tetapi saya dapat bertoleransi karena harganya murah”.

 

2. Harapan yang dapat diterima (acceptable expectation)

pernyataan konsumen: “Saya berharap restoran ini melayani saya dengan sikap baik”.

3. Harapan berdasarkan norma (expectation based norms)

pernyataan konsumen: “pada umumnya restoran ini sangat baik, tapi pada saat saya sibuk pelayanan terasa lama”.

 

4. Harapan harus bersifat normatif (normative should experience)

dinyatakan konsumen: “restoran yang semahal ini seharusnya mempunyai makanan dan pelayanan yang sangat baik”.

5. Harapan ideal atau keinginan (ideal expectation or desire)

konsumen menyatakan: “Setiap orang bilang bahwa restoran ini paling baik, saya ingin pergi kesana pada perayaan ulang tahun saya”.

 

Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa konsumen mempunyai berbagai jenis harapan yang ada dibenaknya. Zeithalm dan Briner (2000) menjelaskan mengenai 2 (dua) tingkatan harapan pelanggan yaitu harapan tertinggi yang disebut desired service dan harapan yang rendah (adequate service). desired service yaitu tingkatan pelayanan yang mana pelanggan mengharapkan akan mendapatkannya. sebagai contoh, pelanggan yang memasuki situs internet yang menyediakan jasa untuk berkencan akan mengharapkan untuk mendapatkan pelayanan yang orang-orang yang cocok, atraktif, menarik untuk diajak kencan dan bahkan mungkin mendapatkan seseorang yang dapat diajak menikah. Harapan tersebut merefleksikan hope and wishes dari pelanggan; tanpa hope and wishes dan believe (keyakinan) bahwa kebutuhan mereka akan terpenuhi, pelanggan mungkin tidak akan menggunakan jasa kencan tersebut.

 

Baca Juga Artikel Lainnya :

 

Categories
Pendidikan

Produk Jasa

Produk Jasa

Produk Jasa

Produk adalah merupakan keseluruhan konsep objek atau proses yang memberikan sejumlah nilai kepada konsumen. Yang perlu diperhatikan dalam produk adalah konsumen tidak hanya membeli fisik dari produk itu saja tetapi membeli manfaat (benefit) dan nilai (value) dari produk tersebut yang disebut “the offer.” Terutama pada produk jasa yang kita kenal tidak menimbulkan beralihnya kepemilikan dari penyedia jasa kepada konsumen.

Theodore Levitt dalam buku The Marketing Imagination mengajukan Konsep total Produk (lihat gambar berikut), dimana suatu jasa yang ditawarkan dapat terdiri dari elemen-elemen :

The core or generic product (produk inti atau generik). Terdiri dari jasa dasar, seperti tempat tidur pada jasa kamar hotel.
The expected product (produk yang diharapkan). Terdiri dari produk inti bersama pertimbangan keputusan pembelian minimal (minimal purchase decision) yang harus dipenuhi. Contohnya : ruang tunggu yang nyaman di bandara, lift yang bersih.
The augmented product (produk tambahan). Area yang memungkinkan suatu produk didiferensiasi terhadap yang lain. Contoh : IBM menawarkan “excellent customer service”.

Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Penentuan Harga Jasa

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi atau perlu dipertimbangkan dalam penentuan harga jasa diantaranya adalah: elastisitas permintaan; struktur biaya; persaingan; positioning dari jasa yang ditawarkan; sasaran yang ingin dicapai perusahaan; daur hidup jasa; sumber daya yang dipergunakan dan kondisi ekonomi

Yang akan dibahas pada bagian ini hanya nomor 1-3. Mengingat bahwa ketiga hal tersebut adalah yang dianggap paling mempengaruhi dalam setiap pengambilan keputusan penentuan harga jasa.

 

a. Persaingan

Posisi biaya (cost position) dan perilaku penentuan harga (pricing behavior) dari pesaing-pesaing merupakan elemen penting yang harus diperhatikan. Perusahaan jasa harus mengamati pesaing-pesaingnya agar dapat menentukan komponen biaya, harga dan keuntungan. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa teknik, seperti : competitive shopping, market research, dan pembandingan harga terhadap kualitas setiap penawaran yang ditawarkan oleh pesaing utama.

Pengetahuan akan biaya yang dimiliki pesaing dapat membantu para manajer di bidang jasa untuk membuat penilaian mengenai harga, sehingga dapat diketahui tingkat kompetisi jasa yang ditawarkan. Kekuatan yang dimiliki pesaing dalam segi keuntungan, posisi harga, dan juga pangsa pasar dalam setiap segmen juga dapat dijadikan acuan untuk menentukan harga.

 

b. Elastisitas Permintaan

Perusahaan jasa perlu mengetahui hubungan antara harga (P) dan permintaan (D) dan bagaimana besarnya permintaan bervariasi pada berbagai tingkat harga yang berbeda. Hal ini juga berlaku bagi setiap segmen pasar. Konsep yang berguna untuk memahami hubungan ini adalah elastisitas permintaan (lihat gambar8.1). Konsep ini membantu para manajer di bidang jasa untuk memahami apakah suatu bentuk permintaan itu elastis (yaitu adanya perubahan sekian persen pada harga menyebabkan perubahan persentase permiPermintaan yang lebih besar) ataupun inelastis (yaitu perubahan sekian persen pada harga secara relatif sedikit mengubah persentase permintaan). Tingkat harga penting bila permintaan terhadap jasa yang terjadi adalah elastis.

 

Strategi dan Taktik Penentuan Harga

Ada beberapa strategi dan taktik penentuan harga produk yang dipergunakan oleh berbagai perusahaan jasa untuk menetapkan harga layanan jasa kepada kosumen yaitu:

  • Cost-plus Pricing: penentuan harga dilakukan dengan menaikkan (mark up) sekian persen dari total biayanya.
  • Rate of Return Pricing: harga ditentukan untuk mencapai tingkat Return On Investment (ROI) atau Return On Asset (ROA) yang ditargetkan. Penentuan harga ini disebut juga ‘target return’ pricing.
  • Competitive Parity Pricing: harga ditentukan berdasarkan harga pemimpin pasar (market leader). Strategi harga ini hampir sama dengan Parity pricing (going rate), yakni penentuan harga dibuat sama dengan harga rata-rata yang ditetapkan oleh pasar.
  • Loss leading Pricing: harga awal ditetapkan pada harga yang murah, terkadang malah merugikan dengan tujuan jangka pendek yaitu mendapat posisi di pasar atau meningkatkan pangsa pasar. Hampir sama dengan strategi stay out pricing, yakni penentuan harga yang rendah (di bawah Break Event Point) dengan tujuan untuk menurunkan masuknya pesaing baru ke dalam pasar.
  • Value-based Pricing: harga ditentukan atas dasar nilai jasa yang dipersepsikan (perceived value) oleh segmen konsumen tertentu. Pricing ini disebut market-driven approach, dimana tindakan dilakukan untuk memperkuat positioning jasa dan manfaat yang diterima konsumen dari jasa tersebut.
  • Relationship Pricing: harga didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan atas seluruh jasa yang disediakan untuk kosumen dan atas potensi keuntungan di masa depan dalam jangka waktu tertentu. Relationship pricing merupakan market-oriented approach dari value-based pricing. Value-based pricing bertujuan untuk membantu memposisikan jasa dan menampilkan fakta dimana para konsumen mau membayar lebih untuk benefits yang dirasakan oleh produk utama dan produk sampingan.
  • Flexible Pricing: teknik penentuan harga jasa bersifat fleksibel, dipengaruhi faktor bisnis jasa itu sendiri. Misalnya jasa layanan hotel akan menetapkan harga yang berbeda pada musim yang berbeda.
  • Discount Pricing: teknik penentuan harga di bawah harga standar. Oleh karena itu perusahaan jasa perlu adanya jasa perantara atau agen, ataupun broker dimana mereka perlu mendapatkan komisi.
  • Diversionary Pricing: adanya pembedaan teknik dasar dalam menetapkan harga yang murah pada jasa inti, sementara jasa lain yang bersamaan dengan konsumsi jasa tersebut dibuat standar atau lebih tinggi. Hampir sama dengan strategi ini adalah Gross-benefit pricing, dimana harga ditentukan di bawah biaya total untuk satu produk dalam product line, tapi relatif tinggi untuk item lain yang berfungsi sebagai barang komplemen langsung dalam line tersebut.
  • Guarantee Pricing: pemberi jasa memberikan jaminan akan produknya namun dengan harga relatif lebih mahal.
  • High price Maintenance Pricing: pemberi layanan jasa berani untuk memberi harga yang tinggi, karena kalau harga turun, maka reputasi akan turun.
  • Peak Load Pricing: penentuan harga dimana pemberi layanan jasa menetapkan harga jasa lebih mahal pada waktu peak (masa ramai) karena biaya yang lebih tinggi yang ditanggung produsen ketika masa peak daripada off-peak.
  • Offset Pricing: yaitu penentuan harga dengan adanya beberapa komponen harga yang “disembunyikan”. harga yang tertera tidak seluruhnya merupakan harga akhir yang harus dibayar oleh konsumen.
  • First-Degree Price Discrimination: teknik menjual setiap unit dari sebuah produk jasa dengan terpisah dan menentukan harga tertinggi yang mungkin untuk setiap layanan jasa yang ditawarkan.
  • Second-Degree Price Discrimination: menetapkan harga yang seragam pada layanan jasa diukur dalam suatu satuan kuantitas tertentu dan harga yang lebih murah (atau lebih tinggi) pada setiap tambahan satuan kuantitas dalam masa konsumsi yang sama. Contohnya : tarif progresif pajak, adanya pembedaan tarif dasar listrik berdasarkan satuan kwh.
  • Third-Degree Price discrimination: menetapkan harga yang berbeda pada layanan jasa yang sama dalam pasar yang berbeda hingga pendapatan marginal dari layanan jasa terakhir yang dijual di setiap pasar yang berbeda sama dengan biaya marginal dari layanan jasa tersebut. Contoh : harga yang berbeda yang dikenakan oleh jasa angkutan udara, adanya tarif regular dan tarif khusus.
  • Two-Part Tariff: praktek penentuan harga dimana konsumen membayar initial fee untuk hak mengkonsumsi layanan jasa tersebut dan membayar pula usage fee atau harga untuk setiap layanan jasa yang mereka konsumsi. Contoh : biaya pemakaian telepon. Adanya biaya abonemen dan selanjutnya konsumen membayar pulsa untuk setiap pemakaiannya.
  • Bundling: strategi penentuan harga dimana menjual satu atau lebih produk layanan jasa sebagai sebuah paket. Misalnya, adanya jenis makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup yang ditawarkan oleh restoran hotel; paket perjalanan wisata; dll.

 

Sumber : https://sarjanaekonomi.co.id/