Categories
Pendidikan

Produk Jasa

Produk Jasa

Produk Jasa

Produk adalah merupakan keseluruhan konsep objek atau proses yang memberikan sejumlah nilai kepada konsumen. Yang perlu diperhatikan dalam produk adalah konsumen tidak hanya membeli fisik dari produk itu saja tetapi membeli manfaat (benefit) dan nilai (value) dari produk tersebut yang disebut “the offer.” Terutama pada produk jasa yang kita kenal tidak menimbulkan beralihnya kepemilikan dari penyedia jasa kepada konsumen.

Theodore Levitt dalam buku The Marketing Imagination mengajukan Konsep total Produk (lihat gambar berikut), dimana suatu jasa yang ditawarkan dapat terdiri dari elemen-elemen :

The core or generic product (produk inti atau generik). Terdiri dari jasa dasar, seperti tempat tidur pada jasa kamar hotel.
The expected product (produk yang diharapkan). Terdiri dari produk inti bersama pertimbangan keputusan pembelian minimal (minimal purchase decision) yang harus dipenuhi. Contohnya : ruang tunggu yang nyaman di bandara, lift yang bersih.
The augmented product (produk tambahan). Area yang memungkinkan suatu produk didiferensiasi terhadap yang lain. Contoh : IBM menawarkan “excellent customer service”.

Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Penentuan Harga Jasa

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi atau perlu dipertimbangkan dalam penentuan harga jasa diantaranya adalah: elastisitas permintaan; struktur biaya; persaingan; positioning dari jasa yang ditawarkan; sasaran yang ingin dicapai perusahaan; daur hidup jasa; sumber daya yang dipergunakan dan kondisi ekonomi

Yang akan dibahas pada bagian ini hanya nomor 1-3. Mengingat bahwa ketiga hal tersebut adalah yang dianggap paling mempengaruhi dalam setiap pengambilan keputusan penentuan harga jasa.

 

a. Persaingan

Posisi biaya (cost position) dan perilaku penentuan harga (pricing behavior) dari pesaing-pesaing merupakan elemen penting yang harus diperhatikan. Perusahaan jasa harus mengamati pesaing-pesaingnya agar dapat menentukan komponen biaya, harga dan keuntungan. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa teknik, seperti : competitive shopping, market research, dan pembandingan harga terhadap kualitas setiap penawaran yang ditawarkan oleh pesaing utama.

Pengetahuan akan biaya yang dimiliki pesaing dapat membantu para manajer di bidang jasa untuk membuat penilaian mengenai harga, sehingga dapat diketahui tingkat kompetisi jasa yang ditawarkan. Kekuatan yang dimiliki pesaing dalam segi keuntungan, posisi harga, dan juga pangsa pasar dalam setiap segmen juga dapat dijadikan acuan untuk menentukan harga.

 

b. Elastisitas Permintaan

Perusahaan jasa perlu mengetahui hubungan antara harga (P) dan permintaan (D) dan bagaimana besarnya permintaan bervariasi pada berbagai tingkat harga yang berbeda. Hal ini juga berlaku bagi setiap segmen pasar. Konsep yang berguna untuk memahami hubungan ini adalah elastisitas permintaan (lihat gambar8.1). Konsep ini membantu para manajer di bidang jasa untuk memahami apakah suatu bentuk permintaan itu elastis (yaitu adanya perubahan sekian persen pada harga menyebabkan perubahan persentase permiPermintaan yang lebih besar) ataupun inelastis (yaitu perubahan sekian persen pada harga secara relatif sedikit mengubah persentase permintaan). Tingkat harga penting bila permintaan terhadap jasa yang terjadi adalah elastis.

 

Strategi dan Taktik Penentuan Harga

Ada beberapa strategi dan taktik penentuan harga produk yang dipergunakan oleh berbagai perusahaan jasa untuk menetapkan harga layanan jasa kepada kosumen yaitu:

  • Cost-plus Pricing: penentuan harga dilakukan dengan menaikkan (mark up) sekian persen dari total biayanya.
  • Rate of Return Pricing: harga ditentukan untuk mencapai tingkat Return On Investment (ROI) atau Return On Asset (ROA) yang ditargetkan. Penentuan harga ini disebut juga ‘target return’ pricing.
  • Competitive Parity Pricing: harga ditentukan berdasarkan harga pemimpin pasar (market leader). Strategi harga ini hampir sama dengan Parity pricing (going rate), yakni penentuan harga dibuat sama dengan harga rata-rata yang ditetapkan oleh pasar.
  • Loss leading Pricing: harga awal ditetapkan pada harga yang murah, terkadang malah merugikan dengan tujuan jangka pendek yaitu mendapat posisi di pasar atau meningkatkan pangsa pasar. Hampir sama dengan strategi stay out pricing, yakni penentuan harga yang rendah (di bawah Break Event Point) dengan tujuan untuk menurunkan masuknya pesaing baru ke dalam pasar.
  • Value-based Pricing: harga ditentukan atas dasar nilai jasa yang dipersepsikan (perceived value) oleh segmen konsumen tertentu. Pricing ini disebut market-driven approach, dimana tindakan dilakukan untuk memperkuat positioning jasa dan manfaat yang diterima konsumen dari jasa tersebut.
  • Relationship Pricing: harga didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan atas seluruh jasa yang disediakan untuk kosumen dan atas potensi keuntungan di masa depan dalam jangka waktu tertentu. Relationship pricing merupakan market-oriented approach dari value-based pricing. Value-based pricing bertujuan untuk membantu memposisikan jasa dan menampilkan fakta dimana para konsumen mau membayar lebih untuk benefits yang dirasakan oleh produk utama dan produk sampingan.
  • Flexible Pricing: teknik penentuan harga jasa bersifat fleksibel, dipengaruhi faktor bisnis jasa itu sendiri. Misalnya jasa layanan hotel akan menetapkan harga yang berbeda pada musim yang berbeda.
  • Discount Pricing: teknik penentuan harga di bawah harga standar. Oleh karena itu perusahaan jasa perlu adanya jasa perantara atau agen, ataupun broker dimana mereka perlu mendapatkan komisi.
  • Diversionary Pricing: adanya pembedaan teknik dasar dalam menetapkan harga yang murah pada jasa inti, sementara jasa lain yang bersamaan dengan konsumsi jasa tersebut dibuat standar atau lebih tinggi. Hampir sama dengan strategi ini adalah Gross-benefit pricing, dimana harga ditentukan di bawah biaya total untuk satu produk dalam product line, tapi relatif tinggi untuk item lain yang berfungsi sebagai barang komplemen langsung dalam line tersebut.
  • Guarantee Pricing: pemberi jasa memberikan jaminan akan produknya namun dengan harga relatif lebih mahal.
  • High price Maintenance Pricing: pemberi layanan jasa berani untuk memberi harga yang tinggi, karena kalau harga turun, maka reputasi akan turun.
  • Peak Load Pricing: penentuan harga dimana pemberi layanan jasa menetapkan harga jasa lebih mahal pada waktu peak (masa ramai) karena biaya yang lebih tinggi yang ditanggung produsen ketika masa peak daripada off-peak.
  • Offset Pricing: yaitu penentuan harga dengan adanya beberapa komponen harga yang “disembunyikan”. harga yang tertera tidak seluruhnya merupakan harga akhir yang harus dibayar oleh konsumen.
  • First-Degree Price Discrimination: teknik menjual setiap unit dari sebuah produk jasa dengan terpisah dan menentukan harga tertinggi yang mungkin untuk setiap layanan jasa yang ditawarkan.
  • Second-Degree Price Discrimination: menetapkan harga yang seragam pada layanan jasa diukur dalam suatu satuan kuantitas tertentu dan harga yang lebih murah (atau lebih tinggi) pada setiap tambahan satuan kuantitas dalam masa konsumsi yang sama. Contohnya : tarif progresif pajak, adanya pembedaan tarif dasar listrik berdasarkan satuan kwh.
  • Third-Degree Price discrimination: menetapkan harga yang berbeda pada layanan jasa yang sama dalam pasar yang berbeda hingga pendapatan marginal dari layanan jasa terakhir yang dijual di setiap pasar yang berbeda sama dengan biaya marginal dari layanan jasa tersebut. Contoh : harga yang berbeda yang dikenakan oleh jasa angkutan udara, adanya tarif regular dan tarif khusus.
  • Two-Part Tariff: praktek penentuan harga dimana konsumen membayar initial fee untuk hak mengkonsumsi layanan jasa tersebut dan membayar pula usage fee atau harga untuk setiap layanan jasa yang mereka konsumsi. Contoh : biaya pemakaian telepon. Adanya biaya abonemen dan selanjutnya konsumen membayar pulsa untuk setiap pemakaiannya.
  • Bundling: strategi penentuan harga dimana menjual satu atau lebih produk layanan jasa sebagai sebuah paket. Misalnya, adanya jenis makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup yang ditawarkan oleh restoran hotel; paket perjalanan wisata; dll.

 

Sumber : https://sarjanaekonomi.co.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *